Jaringan Saraf Tiruan
Jaringan syaraf tiruan merupakan salah satu
sistem pemrosesan informasi yang didesain dengan menirukan cara kerja otak
manusia dalam menyelesaikan suatu masalah dengan melakukan proses belajar
melalui perubahan bobot sinapsisnya. Jaringan syaraf tiruan mampu mengenali
kegiatan dengan berbasis masa lalu. Data masa lalu akan dipelajari oleh
jaringan syaraf tiruan sehingga mempunyai kemampuan untuk memberi keputusan
terhadap data yang belum pernah dipelajari. Jaringan syaraf tiruan, seperti
manusia, belajar dari suatu contoh karena mempunyai karateristik yang adaptif,
yaitu dapat belajar dari data sebelumnya dan mengenal pola data yang selalu
berubah, selain itu jaringan syaraf tiruan merupakan sistem yang tak
terprogram, artinya semua keluaran atau kesimpulan yang ditarik oleh jaringan
di dasarkan pada pengalamannya selama mengikuti proses pembelajaran atau
pelatihan.
Adapun istilah-istilah dalam jaringan saraf tiruan :
- Bobot(weight) : w1,w2,w3,…wn adalah faktor bobot yang
berhubungan dengan masing-masing node. Setiap input akan dikalikan dengan bobot
dari node-nya masing-masing, xT .w. Tergantung dari fungsi aktivasi yang
dipakai, nilai xT .w dapat membangkitkan (excite) node atau menghalangi
(inhibit) node
- Bias : Pada fungsi
Threshold (batas ambang). Fungsi Threshold merupakan fungsi threshold biner.
Untuk kasus bilangan bipolar, maka angka 0 diganti dengan angka -1. Adakalanya
dalam jaringan syaraf tiruan ditambahkan suatu unit masukkan yang nilainya selalu
1. Unit tersebut dikenal dengan bias. Bias dapat dipandang sebagai sebuah input
yang nilainya selalu 1. Bias berfungsi untuk mengubah threshold menjadi = 0.
- Learning rate merupakan salah satu parameter training
untuk menghitung nilai koreksi bobot pada waktu proses training. Nilai α ini
berada pada range nol (0) sampai (1). Semakin besar nilai learning rate, maka
proses training akan berjalan semakin cepat. Namun apabila nilai learning rate relatif
terlalu besar, pada umumnya proses training dapat melampaui keadaan optimal
yaitu pada saat dicapai nilai error yang paling minimal. Dengan kata lain,
learning rate mempengaruhi ketelitian jaringan suatu sistem. Semakin besar
learning rate, maka ketelitian jaringan akan semakin berkurang, tetapi berlaku
sebaliknya, apabila learning rate-nya semakin kecil, maka ketelitian jaringan
akan semakin besar atau bertambah dengan konsekuensi proses training akan
memakan waktu yang semakin lama (Skapura, 1991, pp.104)
- Epoch adalah ketika seluruh dataset sudah melalui proses
training pada Neural Netwok sampai dikembalikan ke awal untuk sekali putaran,
karena satu Epoch terlalu besar
untuk dimasukkan (feeding) kedalam komputer maka dari itu kita perlu membaginya kedalam satuan kecil (batches)
Properti penting dalam
jaringan syaraf adalah kemampuan jaringan untuk belajar dari lingkungan, dan
meningkatkan kinerjanya selama proses pembelajaran. Peningkatan kinerja ini
membutuhkan waktu yang lebih dengan beberapa ukuran yang sudah diberikan.
Jaringan syaraf mempelajari lingkungannya selama proses interaktif dalam
penyesuaian diterapkan pada bobot synaptic dan level bias. Idealnya,
jaringan menjadi lebih paham (pintar) mengenali lingkungannya setelah tiap
iterasi proses pelatihan/pembelajaran.
Ada banyak aktivitas yang dikaitkan dengan
yang namanya “learning” / pelatihan untuk menyesuaikan definisi yang tepat.
Selain itu, proses pelatihan adalah sesuatu yang begitu tampak, yang membuatnya
lebih sulit untuk dipahami pada definisi yang tepat. Misalnya, pembelajaran
seperti yang dipandang oleh seorang psikolog sangat berbeda dengan pembelajaran
di ruang kelas. Definisi jaringan syaraf yang digunakan disino diadaptasi dari
Mendel dan McClaren (1970).
Definisi pelatihan/pembelajaran dalam konteks
jaringan syaraf :
Pelatihan/pembelajaran adalah proses dimana
parameter bebas jaringan syaraf diadaptasi selama proses simulasi oleh
lingkungan dimana jaringan ditempatkan. Jenis pelatihan ditentukan oleh cara dimana
perubahan parameter membutuhkan tempat.
Definisi proses pelatihan ini
mengimpilkasikan urutan kejadian berikut :
1. Jaringan syaraf
distimulus oleh lingkungan
2. Jaringan syaraf mengalami perubahan pada parameter
bebas sebagai hasil dari stimulasi ini
3. Jaringan
syaraf menhasilkan cara baru untuk mengenali lingkungan karena perubahan yang
terjadi dalam struktur internal.
Sejumlah aturan yang didefinisikan diatas
adalah jawaban masalah pelatihan yang disebut dengan learning algorithm (algoritma
pembelajaran). Algoritma pembelajaran berbeda satu sama lain dalam cara
penyesuaian bobot synaptic dari neuron yang diformulasikan. Faktor lain yang
diperhatikan adalah cara dimana jaringan syaraf (learning machine) dibuat
dengan sejumlah interkoneksi neuron, yang berhubungan dengan lingkungannya.
Supervised learning adalah sebuah pendekatan dimana sudah terdapat data yang dilatih, dan
terdapat variable yang ditargetkan sehingga tujuan dari pendekatan ini adalah
mengkelompokan suatu data ke data yang sudah ada, lain
halnya dengan unsupervised learning, unsupervised learning tidak memiliki data latih, sehingga dari data yang ada, kita
mengelompokan data tersebut menjadi 2 bagian atau 3 bagian dan seterusnya.
Contoh Supervised Learning adalah ketika Anda memiliki sejumlah buku yang sudah
dilabeli dengan kategori tertentu. Misalnya, kategori buku novel seperti
Digital Fortress, Inferno, Deception Point. Kategori buku akademik, seperti
Pengantar Teknologi Informasi, R in Action, Rekayasa Perangkat Lunak. Kategori
biografi antara lain Anne Frank, Abraham Lincoln dan Mandela. Selanjutnya,
ketika Anda membeli sejumlah buku baru, maka Anda harus mengindentifikasi isi
dari buku tersebut, dan memasukannya dalam kategori. Ketika Anda membeli buku Logika
fuzzy, Anda pasti akan memasukan buku tersebut ke dalam buku akademik.
Lain halnya dengan Unsupervised
Learning. Anda tidak memiliki data yang dilatih sebelumnya. Anggaplah
Anda belum pernah membeli buku sama sekali, namun dalam satu hari, Anda membeli
banyak tumpukan buku dan ingin membaginya kedalam beberapa kategori agar
nantinya mudah dicari. Anda akan mengidentifikasi buku buku mana yang mirip.
Dalam hal ini, kita memilih pendekatan buku berdasarkan isinya. Misalnya anda
memiliki buku Digital Fortress, Inferno, Deception Point, Pengantar Teknologi
Informasi, R in Action, Rekayasa Perangkat Lunak, Anne Frank, Abraham Lincoln
dan Mandela. Anda akan mengklasifikasikan buku Pengantar Teknologi Informasi, R
in Action, Rekayasa Perangkat Lunak Anda ke dalam buku akademik karena
keperluannya untuk kuliah.
Untuk melakukan hal itu Anda perlu algoritma yang
mendukung untuk pengimplementasian dari metode tersebut.
Algoritma Supervised Learning
·
Decision tree
·
Nearest — Neighbor Classifier
·
Naive Bayes Classifier
·
Artificial Neural Network
·
Support Vector Machine
·
Fuzzy K-Nearest Neighbor
Pendekatan unsupervised learning tidak
menggunakan data latih atau data training untuk melakukan prediksi maupun
klasifikasi. Berdasarkan model matematisnya, algoritma ini tidak memiliki
target variabel. Salah satu tujuan dari algoritma ini adalah mengelompokkan
objek yang hampir sama dalam suatu area tertentu. Contoh dari penerapan metode
ini adalah ketika seorang data analyst ingin
mengelompokkan customer salah satu provider hosting Indonesia berdasarkan
kemiripan sifat dalam hal pendapatan, umur, hobi, dan jenis pekerjaan.
Untuk mengelompokkan customer berdasarkan kemiripan
sifat tersebut tidak diperlukan data training. Menggunakan data yang ada, kita
bisa secara langsung mengelompokkan customer-customer tersebut. Beberapa
algoritma yang dapat digunakan dalam unsupervised learning adalah
Algoritma Unsupervised Learning
·
K-Means
·
Hierarchical Clustering
·
DBSCAN
·
Fuzzy C-Means
·
Self-Organizing Map
Kesimpulannya dari penjelasan di atas adalah jika anda
memiliki data data sebelumnya dan memiliki variabel target yang akan
diklasifikasikan, maka Anda dapat memakai metode supervised learning. Jika
Anda ingin membagi data — data tersebut ke dalam beberapa kelompok maka Anda
memakai metode unsupervised learning.

Komentar
Posting Komentar